Saya adalah seorang anak laki-laki yang menurut saya, saya kurang sekali berbakti kepada kedua orang tua saya.Terutama kepada ibu saya.Saya sering sekali memubuat hati bliau kecewa dan menangis.Saya ingin sekali memperbaiki kesalahan saya kepasda ibu ku tercinta.Saya ingin membuat beliau tersenyum bahagia karena bangga akan saya.Tapi hingga kini saya belum bisa melakukanya.
Suatu ketika saya berkunjung ke rumahnya. Saat itu, kami menjelang kelulusan SMP dan dihadapkan pada kebimbangan apakah akan melanjutkan ke SMA atau tidak. Kami membicarakan bagaimana kiat-kiat agar bisa lolos dalam pendaftaran dan mampu belajar di tengah kondisi ekonomi yang kurang mendukung pada saat itu. Kami adalah teman satu kelas dan satu SD di Weleri. Hubungan kami cukup akrab. Kadang saya yang bersilaturahim ke rumah dia, dan kadang dia yang bersilaturahim ke rumah saya.
Pada saat kami berbincang-bincang itu, ibu dari paman saya itu turut bergabung dan melibatkan diri dalam perbincangan. Boleh jadi, bagi beliau topiknya cukup menarik karena menyangkut masa depan anaknya. Beliau mengungkapan kata-kata yang hingga kini tidak pernah saya lupakan. Beliau berujar bahwa sudah menjadi kewajiban orang tua —termasuk diri beliau— untuk menyekolahkan dan mengkuliahkan anaknya. Beliau mengatakan bahwa selama ini berusaha keras untuk menyekolahkan dan mengkuliahkan anak-anaknya (termasuk paman saya itu), walaupun harus dengan cara bersusah-payah dalam mencari rezeki. Upaya keras yang dilakukannya itu, diibaratkan beliau dengan ungkapan ‘Walau kaki harus naik ke atas kepala, dan kepala harus turun ke bawah kaki’. Maksudnya tidak lain adalah upaya keras yang sekeras-kerasnya, menumpahkan segenap daya, mencucurkan keringat, membanting tulang, dan berusaha membalikkan hal-hal dianggap mustahil bagi manusia tetapi tidak mustahil bagi Allah SWT.
Dukungan moril dari ibu yang demikian, tentu membangkitkan semangat belajar sang anak. Pikiran sang anak juga akan terfokus pada hal-hal yang dipelajari dan mampu mengembangkan pemahaman belajar secara kreatif. Demikian pula yang dirasakan oleh paman saya itu. Paman tidak perlu pusing memikirkan apakah secara finansial bisa kuliah atau tidak. Tugas dia adalah belajar dan belajar sehingga bisa lolos dalam pendaftaran. Dan memang, pada saat hasil seleksi diumumkan, namanya tercantum sebagai calon siswa.
Dan sebenarnya jika mengingat betapa nikmatnya bisa sekolah, antara lain bisa mengembangkan wawasan, menumbuhkan potensi berorganisasi, melatih ketajaman berpikir, menimba ilmu alam dan keIslaman, menjalin hubungan dengan banyak pihak, dan lain-lain, maka nikmat-nikmat tersebut adalah nikmat yang cukup memberikan bekal bagi kehidupan mandiri pasca kuliah. Hal tersebut adalah suatu prestasi yang tidak bisa dinilai kecil dan boleh jadi sangat mempengaruhi langka-langkah kehidupan selanjutnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar